Deoterions: Inovasi untuk Kesiapsiagaan Terhadap Pelacakan Korban Gempa

Tiga mahasiswa Jurusan Fisika Universitas Brawijaya menciptakan suatu alat yang berfungsi untuk mendeteksi lokasi korban gempa yang terjebak di antara puing-puing bangunan. Alat tersebut dinamai Deoterions yang merupakan akronim dari “Detector of Interconnected Position Points“. Deoterions merupakan inovasi dari Adin Okta Triqdafi (Instrumentasi 2016), Satrio Wiradinata Riady Boer (Fisika 2016) dan M. Rikza Maulana (Fisika 2016).
Ide ini bermula dari pengalaman salah satu anggota mereka, yaitu Satrio yang kala itu mengalami tragedi gempa bumi di kota Padang. Gempa tersebut berkekuatan 7.6 SR pada 10 tahun yang lalu. Tujuan dari penemuan ini adalah untuk mengefektifkan penyelamatan dan pencarian korban gempa yang tertimbun reruntuhan bangunan. Secara konvensional, pelacakan korban gempa dilakukan dengan mencari sumber suara tangisan dan pencarian dengan anjing pelacak.

Deoterions berbentuk seperti kartu debit, sehingga dapat disimpan di dalam dompet atau disisipkan di belakang casing telepon seluler. Deoterions juga dapat mengirimkan gelombang radio berfrekuensi 95 MHz pada jarak sejauh 10 KM. Sinyal radio tersebut akan diterima oleh pengguna Deoterions yang lain, sehingga mereka dapat mendeteksi korban yang terjebak reruntuhan bangunan. Pada penggunaannya, korban tidak perlu mengaktifkan alat, tetapi pengguna lain dapat membantu untuk mengaktifkannya. Alat ini akan memberikan tanda flash berwarna hijau di layar smartphone pengguna sebagai penanda dideteksinya lokasi korban, lalu tanda SOS dari green flash akan menyala secara cepat jika lokasi korban semakin dekat dengan pengguna pencarinya.
Berita mengenai penemuan ini telah diliput di beberapa media internasional seperti The Jakarta PostReutersVOA Indonesia dan Al Jazeera English. Selain itu, saat ini Deoterions juga telah dipatenkan.